Sebuah Kata bernama "Harapan Yang Pupus"

Sebuah Kata bernama "Harapan Yang Pupus"



        Sadar akan perbedaan tipis antara kata2 yang sepertinya insan muda seringkali menggunakannya 'GR' yang tidak lain dan tidak bukan adalah 'gede rasa' dengan yang lebih bisa dikatakan hangat di lisannya para remaja, yaitu apa yang disebut sebagai 'PHP' yang merupakan 'Pemberi Harapan Palsu'..
       Namun, tahukah kalian, In my humble opinion, ketika kalian memberi perhatian yang pada saat yang bersamaan sedikit menjadi penawar akan 'racun' kesakitan yang tengah meringkup di dalam aliran daraah merasuk hingga bagian terdalam hati, kalian takkan pernah tahu 'perhatian' seperti itu terkdang bagi kami, sebut saja 'wanita' makhluk lembut nan elok namun kadang tak miliki daya.. Kami dianggap terlalu begitu berharap hingga kalian terkdang lelaki, menganggap kami terlalu memikirkan perasaan. Kami tahu, kami begitu bermain dan begitu larut dalam larutan perasaan tak tentu.. Ini bukan sepenuhnya kesalahan kami. Namun, bila benar 'sebahagian' dari kalian berkata bahwasanya yang demikian hanyalah sekedar 'bentuk perhatian BIASA'.. Janganlah merasuk ke dalam jiwa2 kami yang tengah lengah dan kalian tahu mungkin ada di antara kami yg tengah membutuhkan sandaran, tumpuan, hanya untuk membiaskan seluruh air mata yang tak dapat lagi tuk tak menetes.. Jangan pernah lebih menyakitinya dengan berkata 'Jangan terlalu serius menanggapi perhatian saya, kamu terlalu mengartikannya salah" bersikaplaah setegas yang kamu bisa! Agar kami, si hati yg rapuh juga bisa berkata 'Aku tahu. Aku tak pernah berharap apa2. Karena pula kau telah menunjukkannya dengan sangat baik dan tak sedikit pun memberi secercah harapan untuk kami gapai'
..
       Untuk itu, beda tipisnya pengartian dalam hal menanggapi perhatian seseorang tadi harus kita telaah dengan saksama yah friends .. Jangan sampai kita terjebak ke dalam perasaan yang tak lebih bisa menjadi pembaik dalam kedamaian hati kita.
I've thing for you as usual
Rasa seperti apa ini?

Rasa seperti apa ini?



Di sini.. Di bangku usang kecil ini.. Aku mulai membisikkan pesan kecil kepada sekelumit pikiran yang kini mulai terasa tak tenteram.. entah mengapa~ aku juga tak tahu apa yang kini membuatku begitu resah~ Sulit rasanya lisan ini tuk mengungkapnya...
Aku berdo'a dan berharap rasa ini tak terus menerus mengecam hati dan semakin menambah kegundahannya yang kini ku merasa itu sudah cukup membuatku menderita.
Aku merasa perlu bersahabat dengan seorang 'musuh' atau~ yang bisa saja jadi 'musuh' yah maaf karena aku amat bingung bagaimana mengindahkannya?~ahh mungkin tidak perlu.. karena ia hanya bisa menyusahkanku saja. DILEMA. Apa itu? Apa yang telah kau lakukan pada hati yang sedari dulu jauh sebelum engkau datang dan mengacaukan segalanya! Yah kau mengacau pikiran ini. Saat ini aku tak akan bisa membawa diriku dalam ketenangan dan kedamaian yang senantiasa aku rasakan jauh sebelum engkau datang dan menikam logika, membawa kepada titik yang dekat dengan keterpurukan! Oh! aku mohon pergilah! Sebelum aku yang selalu merasa tenang seketika berubah menjadi amarah yang kan menghempaskanmu!! Aku tak sanggup lagi berada dalam genggaman kekejamanmu. Aku dan hatiku masih sangat suci tuk ternoda akan kekejiaan akan tipu daya yang mungkin saja berujung pada kehancuran akibat ketidaktegasan dalam menentukan pilihan yang ada padamu - Dilema -.
Ku akui aku memang slalu lemah dalam hal ini, tak bisa bahkan tak mengerti hal apa yang seharusnya kulakukan pada saat-saat seperti ini?! Apa?! Aku tak tahu! Dan mungkin sulit untuk kan tahu..
Aku akui aku memang tak ingin menjadi salah seorang dari insan yang seringkali membohongi diri dan hatinya sendiri yang dengan lantang berkata 'tak butuh' cinta sama sekali! Tidak. Bukan begitu.. Aku memang tak memungkiri bahwa seringkali aku butuh sentuhan hangat akan cinta, perhatian yang begitu manis, dan 'rangkaian kata' yang terdengar sangat romantis.. yah~ walau mungkin hanya sekedar kata-kata! Dan sulit tuk menjadi hal yang nyataaa..!
Namun.. Dari hati yang terdalam dan terlanjur sering terkoyak ini ingin mengungkapkan malam ini juga bahwa maafkan jika saat ini Cinta itu bukan merupakan satu hal yang perlu dan akan menjadi racun bagi pikiran. Hentikan itu! Aku tak mau aku terlalu dalam terbawa dalam suasana yang membuatku berpikir aku tak sedang berada pada dunia yang nyata dan keras nan butuh perjuangan!
Yah! AKU, DIRIKU, HATIKU, LOGIKAKU harus segera bangun akan keindahan yang semu ini. Aku sadar akan banyaknya mimpi yang perlu dicapai, bukannya larut dalam dilema akan hati yang kini 'sedianya' hanya membahagiakan dan entah kapan ia akan bertahan dan tak jenuh. Aku tak mau merasakan sakit dan perasaan yang amat begitu bodoh meratap pada kesedihan yang sama bak siklus yang tak pernah berujung akibat kebodohan akan lumpuhnya logika seakan tak kuasa menahan keindahan cinta yang apa? Yang semua itu semu!!!


~ Ririn Arnita Sari
18 Agustus 2014


Kuperkenalkan Kalbu Nan Suci Ini

Kuperkenalkan Kalbu Nan Suci Ini



Mengenal dunia baru sama halnya ketika ketika kita mulai mengenal teman dan sahabat baru yang menyenangkan, terdapat berbagai rasa 'menggelitik' dan cukup menyenangkan dan --mungkin saja sedikit terlihat 'gugup' ~yah bahkan mungkin sangat gugup. Mengapa? Aku juga tak mengerti. Mungkin semua apa yang dinamakan dengan rasa - segala sesuatu yang mendeskripsikan isi dari sahabatnya, yakni 'perasaan'.. Perkenalan yang bisa saja berujung pada dua muara dengan sisi perbedaan yang sangat mendalam yang kusebut ia dengan 'kebahagiaan' atau sedikit 'kesakitan'. Entah mengapa diri ini tak pernah memiliki daya untuk tahu kemana arah 'perasaan' akan berjejak, sampai tiba pada saatnya sang 'waktu' yang menjawab semua itu, semua yang berkelumit di angan-angan pikiran yang kini tengah melayang, terbang ke pulau khayalan entah berantah..
Lisan tak kuasa menahan hasrat untuk tak menitip 'asa' pada hal yang 'sebenarnya' telah diketahui dengan terang dan jelas di pelupuk mata bahwasanya itu akan menjadi hal yang lebih cenderung ke arah 'penyi-nyiaan' waktu.. Namun entah~ entah dan entah mengapa di setiap kepahitan senantiasa ada penyangkaan terhadap 'kebahagiaan' yang entah itu akan benar menjadi bahagia ataukah sebaliknya. Namun, sebagai pernyataan akan kesucian dan ketulusan serta kebaikan yang akan senantiasa dipancarkan oleh sang hati dengan kalbu yang takkan pernah bisa tuk didustai.. Walau seringkali ku membuka cahaya 'ketulusan' itu pada apa yang tak pernah kukenali sebelumnya dan seringkali itu pula kumrasakan sakit dan rasa kecewa tak berujung..
Namun.. Tak mengapa, atas nama penikmatan di atas segala kesakitan yang senantiasa menusuk tanpa rasa belas kasih dan ampunan akan torehan yang terlanjur menggores 'hati' ini takkan pernah lelah mempersembahkan segala sesuatu yang mengindahkan sekitarnya.. Takkan ada kata 'dendam dan benci' untuk mencoba dan ~mungkin mencoba kembali pada segala sesuatu yang ~yaah berharap itu sesuatu yang membaikkan keadaan yang telah terlanjur 'rapuh' mungkin telah sangat rapuh melebihi segala ranting yang kan pergi bersama kesetiannya hingga meninggalkan pohon yang selama ini ia tempati tuk menopang..
Harapan takkan pernah pudar ketika memulai segalanya dengan berharap akan ada pelangi yang menghias di kebiruan langit sore nan indah dengan segala janji akan kebahagiaan yang sesegera mungkin kan menghampiri.


~ RIRIN ARNITA SARI
10 Agustus 2014


Siklus yang Aneh Namun Manis

Siklus yang Aneh Namun Manis


Rintik hujan yang turun dari keindahan langit dengan awan yang dipenuhi 'rahasia' oleh Sang Pencipta yang Maha Agung, yang kemudian kian membawaku ke dalam imajinasi tanpa batas menari dalam bayang angan seindah impian yang tak pernah terbayangkan sebelumnya..
Lamunan panjang yang semakin dalam menggemit logika tuk tak turut campur dalam hal menghalau si 'pemeran utama' - Imajinasi - ketika tengah 'asyik' membanggakan diri sebagai sang penguasa perasaan yang kini semakin dan akan semakin jauh berlayar bersama dengan keindahan yang sampai saat ini belum jua menampakkan kesungguhannya untuk menjadi suatu hal yang nyata.
Ketika lisanku harus selalu beringsut dan membuka setiap lembaran dan tak pernah dapat 'tuk tak bersiul menyanyikan alunan nada untuknya sang 'Cinta', ketika sahabat yang selalu setia dan tak pernah ternoda oleh dusta akan siasat kebohongan yang hanya mencoba menggagalkan kesucian yang telah lama terbangun dalam keharmonisan di atas segala benih-benih kesetiaan yang senantiasa menjadi benih yang ketika 'Hati' dengan sengaja dilukai dan dikelabui oleh sejuta senjata dusta yang kapan dan dalam berbagai keadaan siap tuk membuatnya menjadi lebih lemah dan lengah bahkan akhirnya akan mengubah haluan hati yang semakin kian membuat insan-insan pemilik kesucian hati seketika dengan mudah menjadi pendusta pada hatinya sendiri! Bahkan tanpa sedikit saja memiliki penghargaan atas kesucian yang 'pernah' ah~ Iya? Apa pernah? Hmm, entahlah.. Mungkin saja mereka yang kini menjadi 'penolak' akan menjadi 'Ksatria' pemusnah segala kejahatan yang mencoba 'membunuh' hati!
Begitu banyak yang perlu ditangisi jika seringkali Kita menjadi bodoh pada suatu Hal.. Oh? Apa maksudnya? Apa itu?. Apa aku tak lagi 'dianggap' dungu jika harus mengalunkannya berkali-kali bahkan beratus-ratus.. berjuta-juta kali!! Yah itu - Love - ~yaah, begitu lancangkah lisan tak bersalah ini untuk berkata pada apa yang kini begitu sakitnya tertanam di hati yang sampai saat ini tak dapat kuenyahkan sama sekali! Seakan kembali pada pikiran bodoh! Iya! Amat begitu bodoh!!! Untuk mmeberi pemakluman pada imajinasi yang secara tiba-tiba melakukan persinggahan dalam perjalanannya pada ingatan akan kebahagiaan yang semu! Pada kebahagiaan yang seakan selama ini nampak begitu nyata, begitu memberi iming akan kebahagiaan yang hanya fatamorgana semata! Aku benci! Aku ingin membunuh pikiran kecil jahat ini, yang sering saja ia begitu manis, sehingga kesakitan yang sejatinya lama telah terbangun dalam usaha 'penikmatan' kebahagiaan dalam kesakitan! Dan ini sangat amat aneh! Mengapa? Ya.. aneh karena ketika 'hati ini' beranjak pergi dan tak acuh pada kesakitan lama, ia akan kembali membiarkan dan begitu mudah memberikan perizinan pada hati yang "kita tak akan pernah bisa tahu" ia mungkin lebih keji dari sebelumnya. Namun entah~ yah entah mengapa kita terkadang amat sulit melepaskan diri pada godaan yang tak terelakkan ini. Begitu dan begitu sering terulang.. Sakit dan semakin dirasakan namun selalu ada rasa Manis.. Ah~ apa memang benar 'Ia' benar memang manis? Atau hanya kicauan burung pembawa kabar gembira akan angan yang mulai sulit dikendalikan? Hmm...Namun, itulah suatu Siklus yang mungkin ku bisa mengatakan ini tak begitu romantis tuk menyebutnya suatu 'siklus' namun perulangan pada sesuatu yang berusaha selalu dibuat 'indah' namun selalu pula berakhir dengan kesakitan! Sungguh aneh.. namun itulah rasa 'manis' yang mungkin sulit 'tuk enyah~


Ririn Arnita Sari
31 Juli 2014
Menapaki Ranah Yang Kadang Penuh Lara

Menapaki Ranah Yang Kadang Penuh Lara




Seringkali dan bahkan mungkin hampir setiap saat ku berpikir mengenai arti nyata kehidupan ini.. Menelusuri tiap likunya dan meraba setiap sisi ketidaktampakan kelembutan yang semakin lama kian membangkitkan hasrat untuk menemui apa yang dinamakan 'kebahagiaan dalam hidup'. Namun entah mengapa dan bagaimana bisa semakin ku berusaha menemukan kebahagiaan itu, merelai semua angan akan 'godaan' yang pula kian mencoba menggagalkannya semakin jauh ia menghilang bahkan untuk mengecup bayang kebahagiaan itu pun amat sulit rasanya.
Aku tahu, cukup dan mungkin sudah semakin tahu, bahwa kebahagiaan yang sebenar-benarnya ketika kita berusaha memiliki imajinasi dalam menikmati tiap kesakitan dalam hal apapun.. Tapi, tapi.. Aku tak mau jadi pendusta pada diriku, ragaku yang kini terlihat semakin lemah, lemah pada batin yang lelah akan semua kepedihan dan kekejaman kehidupan yang kadang kala singgah tanpa menyudahi tebaran 'racun' yang akan membawa kita pada ketidakberdayaan, pada apa yang akan membunuh cita dan angan-angan mulia yang sejengkal lagi kian dekat dengan kilau kesuksesan!
Miris mendapati insan-insan yang 'diklaim' telah dicukupi lidahnya dengan seonggok nasi? Mana? Tidak! Mereka bahkan tak dapat merasakan hangatnya dan betapa nikmatnya 'butiran beras' yang tersaji di depan mata mereka! Mereka hanya dapat memandangnya dengan guratan wajah penuh kemalangan! Penuh penderitaan yang bahkan semilir angin pun tak tega meliukkan dirinya pada batang leher yang melolong merana berharap mengecap nikmatnya segala sesuatu yang bahkan jemari mereka tak dapat sama sekali menyentuhnya..
Betapa naifnya diri ini ketika membiarkan raga berlalu, manari-nari di bawah senyuman sinar mentari yang bahkan mungkin ia - Matahari - hanya menunjukkan senyum iba pada mereka yang hanya dapat menyandarkan diri pada batangan besi tua nan dingin di bawah megahnya pencakar langit dan riuhan tawa yang seakan sama sekali tak membiarkan sedikit simpul lirikan akan lara mereka yang mengharap belas kasih pada mereka yang empunya gemilau harta, kilauan butiran mutiara, dan silaunya ujung tapakan kaki mereka!!

Ririn Arnita Sari
Sadarkan Aku Akan Kepahitan Cinta

Sadarkan Aku Akan Kepahitan Cinta



Sekiranya rasa 'manis' pada sesuatu tak akan selamanya menetap, pasti suatu saat akan digantikan posisinya oleh rasa 'pahit' dan bahkan pada ketidakadaan rasa lagi..
Begitu pula dengan yang dinamakan 'perasaan', suatu kata yang sulit ditafsirkan hanya dengan memamerkan logika untuk menelaah semua tentangnya.. Itu tak semudah yang dibayangkan. 
Kadang aku percaya akan adanya yang dinamakan 'Cinta Sejati' namun mengapa rasanya sulit untuk ku percaya bahwa itu hanyalah sekedar 'kata-kata' saja.. Tak ada sebenar-benarnya cinta sejati.. Alasan yang cukup bijak tuk aku katakan adalah karena aku sendiri belum ~ah atau mungkin tidak. ~Yah tak pernah menemuinya...
Bukan hanya sekedar rangkaian kata-kata kosong yang tak dapat dipertanggungjawabkan yang kemudian membuat pernyataan 'kejam' akan ketidakberadaan cinta sejati yang dimaksud. Namun ini hanya sekedar segelintir ungkapan sebagai sebuah curahan dari hati yang kini tengah 'lelah'.. Oh, mengapa? Mengapa lelah? Ya~ lelah akan segala sesuatu yang hanya bisa memberi sumbangsi akan kesakitan yang tiada hentinya. 
Ketika telah tiba pada insan yang aku sendiri kadang tak mengerti apa yang 'mereka' yang sebahagian dari mereka mengklaim sebagai manusia dengan penuh kegagahan - Pria - ya. Pria. Mereka. Aku malah tak pernah dapat melihat sisi kosong tuk ku merasukinya dan mengetahui isi hati dan pikiran mereka.. Kadang kala aku berpikir menyerah 'tuk mengetahui sisi mana yang harus kukatakan sejati dari mereka? Sisi mana yang harus kuketahui, sehingga aku mendapati kesetiaan dari hati sebahagian mereka yang memang benar miliki 'bubuk kesetiaan' yang kelak akan dapat tuk kujadikan alasan akan pembuktian 'cinta sejati' yang awalnya sulit bahkan nyaris saja tak ada asa dan alasan tuk percaya akan hal yang demikian..
Rasa yang begitu dan begitu indah, begitu manis, daaan begitu 'segalanya' yang indah yang ada di dunia ini melebihi segala sesuatu yang indah yang pernah ada dalam bayang angan kita di awal aku membiarkan hati ini menari dan menjalin keterikatan bersama hati yang sama sekali tak kuketahui apa ia memang benar-benar kan menjadi 'sejati' di atas sakralnya 'kata cinta' atas nama 'ketulusan'
Hhh.. Namun.. Apa?! Kini ku hanya dapat menghela napas, memberikan sinyal ketabahan atas semua yang telah dan kini merasuk menyakiti, membunuh cita dan asa akan 'cinta sejati' yang kiranya baru saja kutemukan.. Pada kenyataannya.. Ia hanyalah ombak-ombak yang berdusta pada batu karang yang dihempasnya.. 'Batu karang' yang begitu setia, yang demikian berbesar hati untuk dihempas oleh kerasnya kedatangan 'ombak-ombak'.. Namun apa balasannya?! Hati ini kini telah ternoda , telah banyak menyia-nyiakan dirinya pada hati yang keji yang tak pernah sebenar-benarnya menaruh hati padanya..
Dan.. Kini aku berterima kasih pada 'Kenyataan' yang begitu berbaik hati memberiku sinyal 'kesakitan' yang memang terkadang harus kita terima walau itu sakit!
Terima kasih atas cinta yang begitu penuh akan dusta yang aku bersyukur hanya sejenak saja kau suntikkan pada diri ini.. Dan kini, enyahlah bersama kehancuranmu, bersahabatlah bersama dusta dan segala tipu daya akan bahkan 'sakralnya kata cinta' tak mampu menghalaumu menebar racun kesakitan itu. Ya~ kau memang sangat akan pantas berlayar bersama dustamu!
Dan kenyataan, iming-iming kebahagiaan semu di atas segala kekejaman atas hati telah membuka mata hati ini lebar-lebar akan kepahitan Cinta yang bukan tanpa alasan.
 ~Ririn Arnita Sari
Cinta Belum Menemukan Naungan yang Tepat

Cinta Belum Menemukan Naungan yang Tepat



Berbicara mengenai tempat kita berlindung dan membenahi hidup saat ini, yah~ sebut saja ini sebagai sebuah 'benda' di mana 'ia' akan sangat ramah pada kita, ketika kita tepat bertemu dengannya dan ia memang telah diperuntukkan untuk menyatu dengan kita..
Namun, hal ini akan sulit ketika naungan yang kita anggap selama ini telah menjadi suatu bagian dari hidup kita yang telah kita denotasikan 'pas' untuk kita naunngi, untuk menjadi teman di saat-saat air mata harus berlinang tanpa ada rasa malu sedikitpun disaksikan olehnya dan seisinya. Bak mawar yang belum saatnya ditemukan oleh jemari pemiliknya.
Seperti ini pula jika kita menemui hati kita yang sedianya diisikan oleh ALLAH S.W.T., rasa 'Cinta' yang begitu kuat, begitu perasa, dan lemah di saat-saat itu dibutuhkan, dan.. Bisa saja seketika berubah menjadi hati dengan amarah nan membara ketika disulut api dusta yang tanpa disangka menggores kesucian yang telah disuguhkan bersama tiang 'kesetiaan'.
'Cinta' itu sedemikian rumitnya sehingga ketegasan sang badai pun sulit menerka apa keinginan yang tengah mengembara di dalam kedalaman yang sulit diterka..
'Aku' seorang anak manusia yang seringkali salah dan kadang nyaris mematahkan asa akan 'Dimana' 'Cinta' sejati yang marak dibahagiakan oleh para pembijak hati.. Mana? Aku mulai kehilangan asa untuk mencoba menemukan dimana 'ia' sebenarnya? Apakah ia - 'Cinta' yang "dikatakan" sejati - itu benar-benar ada? Ataukah telah lenyap setelah 'ada' di antara ribuan jiwa yang mungkin saat ini tengah mencari naungan mereka masing-masing.
Ketika segala sesuatu telah diukur menurut 'tampilan fisik', merahnya polesan wajah, dan keidealan guratan wajah yang tak lagi alami dengan sapuan butiran bedak merata menutupi keromantisan 'wajah' yang sebenar-benarnya akan indah pada apa yang sudah diadakan sejak awal.
Dan.. Ketika kilauan butiran berlian nan menyilaukan yang telah banyak 'membutakan' segalanya...
Rasa sakit yang teramat sakit kini menikam menambah lara yang semakin mendekap, menari di atas segala racun kesakitan yang ia tebarkan menodai keputihan dan kesucian hati yang begitu menaruh harapan dan 'menyimpan' sebagian besar kebahagiaannya untuk dibagikan bersama dengan kebahagiaan yang sekiranya datang mengunjunginya..
Namun, 'cinta' terasa amat sulit ketika berada di oase agan-angan yang hanya sekedar angan dan bayang bahagia semu yang terus saja menyelimuti. Penolakan akan harapan yang telah ditanamkan pada 'hati' yang sangat tak menunjukkan inginnya pada hati penuh kesucian yang disuguhkan padanya, itu terasa sungguh membunuh! Yah. Membunuh asa dan perasaan yang tengah berada dalam gelora akan pengharapan yang sekiranya 'kita' telah mengira bahwa 'cinta' kita telah menemukan 'Rumahnya'.. telah menemukan naungan yang tepat tuk berbagi rasa sakit yang kan ditempuh dengan penyatuan dua asa yang bersama berbahagia dan tegas akan kesulitan-kesulitan yang 'kan dihadapi bersama-sama. Tapi! Hati dan Cinta ini terasa tak ada artinya lagi ketika menemukan Cinta yang telah dianggap tepat, ternyata kita mengetahui.. Cinta itu sama sekali tak menginginkan kita! Yah~ kita terbuang! Keberadaan kita tak diinginkannya. Bahkan sebait kata 'maaf' atas penolakan kejam akan hati yang telah luluh lantak ini tak sedikitpun ditunjukkannya.. Sungguh menyedihkan membolehkan hati mengenal 'Dia' yang hatinya selama ini dan selamanya tak akan pernah menaruh peduli atas angan yang suci yang sebenarnya kita suguhkan padanya..
Dan.. setelah apa yang kusadari selama ini, bahwa apa pun takkan pernah merubah kenyataan ia tak pernah menginginkan adanya hatiku di hatinya..
Sekarang, dengan bijak aku merangkai kata yang tepat untuknya yang aku berharap ia menemukan rumah yang lebih suci di atas kecewanya hati ini dan pula ia kan bahagia.. Pergilah dengan segala keangkuhan dan kekejaman atas hati yang melolong merana ini, dan berharap naungan hati yang tak lebih suci dari ini dapat memberimu kebahagiaan walau dengan segala dusta yang kau miliki.. Pergilah, pergilah 'cinta' yang aku sadar, kau bukanlah naungan tuk merangkai kesedihan menjadi edelweiss indah, dan berharap pula ku menemukan 'rumah' ku.. rumah tuk hatiku yang kan menemaniku menikmati sinar mentari yang terus menebarkan senyum kebahagiaannya di setiap pagi yang penuh dengan kedamaian dan tanpa berkurang kebahgiaannya setengah pun..


~Ririn Arnita Sari

Kategori

Kategori